[Day 1] Wisata Kuliner Ala Backpacker di Solo Selama 2 Hari

Sudah lama aku ingin menuliskan pengalaman jalan-jalan ke Solo karena aku rasa sayang kalau tidak diabadikan dalam tulisan, hehe. Perjalanannya sendiri aku lakukan bersama adik dan pacarnya. Jadi kami bertiga berangkat ke Solo selama 2 hari 1 malam.

Pada hari Kamis, 5 Agustus 2018 tepatnya kami naik kereta Prameks jam 7 pagi di Stasiun Tugu. Tiketnya sudah dibeli pacarnya adikku pagi-pagi jam 5an supaya tidak terlambat. Lamanya perjalan sekitar 1,5 jam.

IMG20170805083132.jpg
Ini keretanya dari Jogja ke Solo

Begitu sampai di Solo (sekitar jam 8.30) kami berjalan kaki mampir sarapan Gudeg Ayu,  Jalan Gajah Mada No. 152, karena penasaran dengan rasa Gudeg Solo yang katanya lebih enak daripada Gudeg Jogja. Harga gudeg yang aku pesan 26 ribu. Aku dan adikku setuju kalau gudeg ini lebih enak daripada gudeg Jogja yang cenderung manis. Gudeg Solo lebih gurih dan agak pedas, cocok dengan lidah kami. Lanjut ke tujuan yang sebenarnya, yaitu ke Stadion Manahan untuk mencari Cabuk Rambak.

IMG20170805084509_1

Perjalanan ke sana diselingi dengan membeli roti Sophie Souffle yang katanya terkenal di Solo, habis itu nemu mobil roti lagi yang ngejual Roti Dika. Dan katanya roti itu juga sudah lama ada di Solo, jadi nyoba beli juga. Menurutku, roti Solo itu enak, empuk dan lembutnya cukup, harganya juga masih di bawah 10 ribu.

This slideshow requires JavaScript.

Akhirnya sampai juga ke Stadion Manahan. Aku melihat banyak orang sedang berolahraga, mulai dari anak muda hingga ibu-ibu yang bermain tenis. Di luar stadion, daerah rerumputan ada beberapa penjual Cabuk Rambak. Karena tidak tahu bedanya, kami beranggapan kurang lebih samalah harga dan rasanya. Duduk di atas rumput beralaskan tikar, kami makan Cabuk Rambak dan Nasi Liwet. Nasi Liwetnya kurang berasa tetapi Cabuk Rambaknya nagih, bikin pengen nambah tapi seharian nanti, jadwal kuliner masih panjang. Jadi aku putuskan untuk meneruskan perjalanan setelah makan berbagi dengan adikku. Cambuk Rambak sendiri terbuat dari ketupat bumbu wijen & daun jeruk purut plus krupuk karak.

This slideshow requires JavaScript.

Berjalan kaki sebagai 3 orang backpackers, kami menuju Solo Paragon Mall, mal terbesar di Solo. Kami langsung membeli air kemudian mengarah ke food bazar di atrium. Di sana ada banyak sekali makanan yang menarik, alhasil kami mencoba banyak, mulai dari Cireng Jupe (13 ribu), The Choipan isi bengkoang (15 ribu/ 5 pcs), Es Teler by Treat, Bobobi, dan Takoyaki. Kemudian aku juga membeli Solo Pluffy Cake by Jessica Milla dengan topping keju (58 ribu).

Yang pertama aku makan adalah The Choipan sambil nyomot Es Teler. Rasa Choipannya enak tapi kurang spesial seperti yang ada di Pontianak, isinya lebih tipis dan hasil frozen. Es Telernya enak, karena esnya diserut menggunakan mesin sehingga lembut, aromanya pun harum kelapa. Setelah itu aku juga mencoba Takoyakinya yang rasanya enak juga tapi belum menemukan ciri khas yang membedakan dengan takoyaki lainnya.

This slideshow requires JavaScript.

Aku juga ngantri beli Cireng Jupe soalnya ramai gitu antriannya, entah karena enak atau karena beberapa waktu lalu berita Jupe meninggal masih cukup hangat. Ketika aku makan, ternyata rasanya memang enak, tapi karena sudah kenyang icip ini itu, jadi menghabiskannya tetap butuh perjuangan. Dan terakhir adalah Bobobi. Saat itu Bobobi lagi musim dan menjamur di mana-mana terutama di Jakarta. Tapi Bobobinya Solo tetep enak. Aku juga beli kue Jessica Milla untuk dicoba, kalau enak, bisa dijadikan oleh-oleh.

Sudah saatnya untuk check-in. Kami menggunakan grab menuju Swiss-Belinn Saripetojo Solo, Jl. Slamet Riyadi 437. Kami sengaja memilih hotel ini karena harganya tidak begitu mahal untuk bertiga dan tentunya kamarnya lebih luas. Saat itu menggunakan Traveloka kami mendapat harga 300-an ribu satu malamnya. Sesampainya di kamar, kami beristirahat sebentar dan jam 4an baru jalan lagi.

Tujuan kami berikutnya adalah ke Solo Square yang katanya mal sejuta umat. Turun dari mal ada Robinson dan aku mampir lihat-lihat sebentar. Ternyata nggak ada yang menarik. Jadi kami langsung memesan grab menuju Solo Square.

Di Solo Square, kami menuju foodcourt untuk melihat kuliner apa yang menarik. Sebenarnya di malam hari ada tempat kuliner lain yang ingin dikunjungi, jadi aku juga tidak ingin kekenyangan di sini. Di food court kami mencoba beberapa kuliner seperti Kekian, Lotek, Tahu Petis, Nasi Ayam Bakar Komplit dan Gelato by La Moda del Gelato.

Kekiannya kurang enak, Lotek, Tahu Petis, dan Nasi Ayam Bakar Komplitnya juga biasa saja, standar foodcourt mal. Tapi lumayan mengobati kangen Lotek dan ingin tahu Tahu Petis ala Solo seperti apa. Kalau Gelatonya enak! Apalagi ada rasa wijen hitam yang aku doyan. Tanpa penyesalan, aku beli 2 kali.

This slideshow requires JavaScript.

Setelah dari Solo Square, kami menyempatkan diri mencari batik di Ria Batik, Jl. Raden Mas Said No.85, sebelum menuju ke Juragan Food Center, sejenis foodcourt yang cukup terkenal di Solo. Di Juragan, kami membeli beberapa kuliner lagi seperti Ice Blend by @kuong_solo, The Choipan lagi, Nasi Gandul dan Soto Daging by Dapoer Mak Uti, Ayam Penyet Bu Yuli, dan Wedang Tahok plus Wedang Dongo by Wedang Dongo Laris.

Choipan isi kuchainya habis, jadi kami beli lagi yang bengkoang dan isi jamur karena adikku lagi ngidam choipan. Nasi Gandulnya enak banget! aku suka rasanya yang pas, porsinya kebanyakan dan harganya terjangkau, wajib nyoba kalau ini. Kalau Ayam Penyetnya sih biasa aja tidak istimewa. Terus Wedang Tahoknya adikku suka, katanya enak, tapi akunya juga biasa aja sih, tetep lebih suka yang di Pontianak. Wedang Dongonya juga biasa aja sih sebenarnya tapi cocok dimakan malam hari karena hangat jahenya lembut berasa.

Beranjak dari Juragan, kami berjalan kaki menuju Pasar Malam Ngarsopuro yang katanya selalu rame dan banyak makanan enak juga. Sampai di sini ternyata cukup ramai, banyak yang berjualan baju, kerajinan tangan, souvenir, dll. Aku nggak menemukan yang menarik jadi kami bergerak menuju area makanan. Tapi sayangnya perut sudah sangat kenyang, jadi kami hanya membeli cemilan-cemilan kecil seperti Es Puter, Bakso Bakar, dan Leker. Sebenarnya masih banyak makanan lainnya seperti Ronde, Sate Kere, Sosis Solo, dll, tapi apa daya, perut sudah mencapai klimaksnya.

Btw, Es Puternya enak karena ada tape hijaunya, es krimnya sendiri terlalu manis buat aku, jadi nggak dihabisin kecuali si tapai, hehe. Bakso Bakarnya juga murah meriah tapi jangan salah masukin bumbu, karena aku kebanyakan naro bubuk cabe dan akhirnya pedas pahit. Sambil nunggu grab untuk pulang, kami juga ada membeli leker.

This slideshow requires JavaScript.

Pukul 9 malam, kami sampai di hotel, mandi dan melemaskan kaki terlebih dulu sebelum tidur. Nuansa di Swissbel bikin kamu merasa sayang untuk tidur terlalu cepat. Kesimpulannya hari pertama perjalanan kuliner ini saat memuaskan karena sudah nyoba lebih dari 10 jenis makanan, seru! Jadi bisa ngebuktiin kata teman kalau kuliner Solo memang lebih enak daripada Jogja. Ini pendapat sebagai orang pendatang sih bukan yang asli Jogja.

Karena sudah malam, kelanjutan perjalanan hari keduanya menyusulnya kawan…good night 🙂

 

 

4 thoughts on “[Day 1] Wisata Kuliner Ala Backpacker di Solo Selama 2 Hari

    1. balik lagi ke selera sih, kalo doyan asin daripada manis, di Solo surga banget sih menurut aku. Harga ga begitu mahal, tapi enak gituu

Leave a Reply