[Day 2] Wisata Kuliner Ala Backpacker di Solo Selama 2 Hari

Lanjut dari postingan sebelumnya. Kami bertiga bermalam di Swiss-Bel Inn Solo. Gak nyesel sih bermalam di sini soalnya kamarnya luas, wcnya luas, ACnya dingin, siaran TV kabel, tidur pun nyenyak. Hanya saja kami book hotel tanpa fasilitas breakfast. Jadinya, kami sengaja bangun jam 7 soalnya kemarin udah super pegel jalan kaki di Solo dan tidak perlu mengejar jam sarapan hotel.

Setelah mandi, yang aku lakuin adalah mengajak para dedek untuk menemani aku keliling si Swiss Bel, kan sayang gitu uda jauh-jauh datang. Aku iseng foto dan banyak yang menarik di sini, mulai dari toilet, ruang makan, kolam renang, taman, skyline kota, semua aku foto walaupun belum tahu tar kepake apa nggak. Senang aja gitu menuh-menuhi memory hp dengan hal yang informatif. Kalau mau lihat foto-fotonya, bisa request di kolom komen 😉

Tujuan berikutnya adalah makan Nasi Timlo yang terkenal di Solo dengan menelusuri Pasar Gede terlebih dulu. Sebenarnya banyak barang yang menarik di pasar, seperti buah-buahan dan jajanan pasar. Tapi mengingat backpacker dan entar di Jogja juga hanya sebagai anak kos tanpa kulkas, jadi aku mengurungkan niat beli buah dan beli gorengan saja.

Aku masih amazed dengan konsep Sosis Solo. Di bayanganku, sosis itu daging olahan yang dibentuk menjadi silinder kecil. Tapi nyatanya Sosis Solo itu seperti gulungan telur yang dalamnya ada sedikit daging ayamnya. Mungkin karena telurnya dominan daripada daging ya jadinya aku rada syok. Rasanya enak juga sih, cuman minyaknya agak berlebih. Satu lagi aku beli tanpa tahu nama, hanya karena banyak kacangnya dan bentuknya mirip dengan Leto, gorengan pas KKN di desa dulu.

Sambil makan gorengan, akhirnya sampai juga ke Nasi Timlo Sastro. Menurut aku, nasi Timlonya memang lebih enak daripada yang di Jogja dan harganya tidak terlalu mahal sih. Kalau memang punya waktu lebih, harus nyempatin makan nasi Timlo di sini.

IMG20170806094657.jpg

Lanjut jalan kaki, kami mencari penjual Bakpia Balong. Nah kalau ke Solo, wajin beli Bakpia Balong, karena bakpia ini ada rasa khas tersendiri dibanding bakpia Jogja ataupun Bali. Tingkat kemanisannya dan kerenyahannya pas, enaklah pokoknya. Aku beli yang rasa coklat lava dan keju, sementara adikku beli yang rasa kacang merah.

IMG20170806154956_1.jpg

Selanjutnya kami menuju ke The Park Mall Solo. Mall yang nuansanya agak mirip dengan Central Park Mall Jakarta, soalnya ada taman dalam mal dan ada balkon mengarah ke tamannya juga. Karena masih pagi, malnya masih sepi. Aku duduk sebentar untuk beli Share Tea biar seger lagi dan kali ini kami beli makanan di foodcourt karena nggak terlalu berbeda dengan yang kemarin dan masih kenyang dengan nasi Timlo.

Sehabis dari mal, kami terus mencari batik ke PGS (Pusat Grosir Solo) karena kemarin nggak dapat kemeja batik buat Papa. Batik Solo juga terkenal bagus, jadi kami niatin untuk nyari baju batik itu. Nah di PGS ini dalemnya mirip ITC Mangga Dua, penjualnya banyak banget ampe pusing mau nyari baju di mana. Tapi karena tujuan mulia akhirnya pelan-pelan kami cari. Membawa ransel yang terisi penuh di tempat semacam itu bukan ide yang bagus karena jalannya kecil dan sempit. Sekali kamu miringkan badan, ada saja yang ketabrak. Akhirnya di sini nemu baju buat papa (tapi sekali papa coba katanya kegedean dan ga pernah dipake) plus aku beli celana kulot batik yang sampai sekarang aku masih pake (60ribu) dan satu rok batik yang jarang aku pake (70ribu).

Setelah berhasil menjalankan misi utama, kami ke pusatnya Solo Pluffy Cake. Lumayan ngantri sih di tempat ini, dan aku beli yang rasa oreo dan blueberry (total 113ribu) untuk oleh-oleh. Kue ini tidak tahan lama karena memang termasuk kue basah tapi tenang aja karena exp datenya ada di kotak. Rasanya memang lebih enak dibanding kue-kue artis lainnya dan harganya masih bolehlah ngga nyampe 70ribu saat itu.

Kaki mulai pegel lagi karena jalan-jalannya bawa ransel dan kami pun memutuskan untuk pulang ke Jogja. Harusnya bisa beli tiket go show yang jamnya paling dekat tapi ya sudah terlanjur beli kereta jam 4 sore. Jadi, karena masih lama dan belum boleh masuk menunggu di area dalam yang banyak kursinya, kami berdiri di dekat pintu masuk (ya mirip anak terlantar gitulah).

Begitu jam kereta sudah dekat, kami nunggu di area dalam, dan seneng bisa balik ke Jogja dengan membawa kenangan indah dari Solo. Menurutku Solo itu salah satu surganya makanan enak! Senang pernah ke sini.

Leave a Reply