Khawatir Tidak Bisa Persalinan Normal, Aku yang Bermata Minus Pergi Periksa Mata

Sebagai calon Mama baru, banyak hal yang tidak aku ketahui terutama seputar kehamilan. Memasuki usia kehamilan 9 bulan, aku sendiri baru tahu dari dokter kandunganku kalau harus memeriksakan retina mata apalagi kalau minus mata cukup tinggi.

Seseorang yang memiliki minus mata tinggi retinanya cenderung lebih tipis bahkan sudah memiliki robekan kecil ataupun retak bergaris dibandingkan dengan pemilik mata normal. Akibatnya retina tersebut punya risiko lebih tinggi mengalami robekan lebih lebar saat mengejan. Amit-amitnya, robekan yang lebar ini berdampak pada kebutaan. Dan beberapa hari kemudian, akupun pergi ke Rumah Sakit Mata SMEC Samarinda.

Pengalaman Periksa Mata di SMEC

-Hari Pertama-
Aku pergi ke SMEC sekitar jam 7 malam. Karena sudah pernah daftar tapi lupa bawa kartu, jadi setelah memberikan KTP untuk dicek dulu identitas sebagai pasien yang terdaftar. Prosesnya sebentar saja, setelah konfirmasi nomor hp, aku disuruh menunggu sebentar hingga ada panggilan berikutnya.

Masih di lantai yang sama setelah mendaftar sebagai pasien non BPJS (kalau BPJS ruangannya berbeda), aku masuk ke ruangan yang mirip dengan pemeriksaan mata di optik. Aku duduk di depan alat periksa matanya, lalu alatnya bekerja dengan cepat untuk menentukan total minus dan silinderku. Kita hanya perlu fokus melihat pemandangan yang ada di dalam alat tersebut.

Setelah itu masih di ruangan yang sama tapi hanya berpindah posisi mata ke lubang atas mesin tadi untuk pengecekan tekanan bola mata. Di sinilah angin akan dihembuskan ke bola mata kanan dan kiri secara bergantian. Pemeriksaan ini selalu bikin kaget karena anginnya berhembus tiba-tiba.

Lalu tahap berikutnya adalah memakai kacamata dari mereka dan membaca huruf-huruf yang ada di layar depan. Proses ini juga familiar ada di optik biasa, yang membedakan itu alatnya terlihat lebih canggih karena pergantian lensanya cukup dengan ditekan saja pada alat kacamatanya. Nah, setelah itu barulah kita akan dipakaikan kacamata sementara yang mirip di optik selama beberapa menit sampai dipanggil kembali.

IMG-0214.JPG
Penampakannya agak lain ya dari kacamata yang di optik

Setelah dipanggil lagi untuk mengembalikan kacamata mereka, petugas akan bertanya apakah ada pusing selama pemakaiannya? Aku jawab tidak ada pusing. Lalu petugasnya mengantarkan aku ke ruangan atas untuk tahap berikutnya untuk bertemu dengan dokter spesialis mata.

Aku menunggu sebentar di ruang tunggu atas sampai ada panggilan masuk ke ruangan dokter. Begitu sudah dipanggil masuk, dokternya bilang kalau sebenarnya pemeriksaan retina ini sebaiknya dilakukan sebelum masuk ke bulan 9. Tapi karena sudah terlanjur jadi dokternya tetap lanjut memeriksa bagian dalam kelopak mataku atas-bawah kiri-kanan. Setelah itu dokter bertanya apakah aku ada kolesterol? Aku bilang tidak tahu karena tidak pernah periksa. Beliau bertanya demikian karena banyak titik putih di dalam kelopak mata dalamku.

Kemudian si dokter menjelaskan sebenarnya masih ada tahap pemeriksaan terakhir lagi, tapi butuh waktu 1,5 jam hanya untuk membuka/ memperlebar lapisan mata dengan tetesan obat mata dari mereka. Karena waktunya tidak memungkinkan, jadi saya dan suami disuruh besok kembali lagi untuk menemui dokternya.

Sebelum pulang kami membayar biayanya sebesar Rp 175.000. Aku pulang dengan pertanyaan, jadi apakah kolesterol ini berbahaya? Perasaan dulu tidak ada titik putih dalam kelopak mata dan sebelum hamil itu aku termasuk orang yang jaga makan, kok bisa ya? Biaya tesnya 175 ribu, besok bayar berapa lagi ya?

Sambil perjalanan pulang, akupun mencari tahu di Google masalah kolesterol pada ibu hamil.

-Hari Kedua-
Aku dan suami kembali ke SMEC sekitar jam 3 sore sesuai dengan janji. Resepsionis ternyata sudah mempersiapkan berkas pasien dan akupun bisa langsung menjalani tes. Sebelum bertemu dokter, aku tetap harus tes tekanan bola mata di ruangan lantai dasar seperti kemarin. Kata petugasnya memang tekanan bola mata perharinya harus dites dulu. Setelah menjalani tesnya, aku langsung disuruh naik ke atas.

Di atas, petugas berikutnya menyampaikan kepadaku kalau sebelum pengecekan retina, mataku harus ditetesi obat dulu untuk memperlebar lapisan mata. Butuh waktu sekitar 1-1,5 jam dengan penetesan berkala tiap 20-30 menit oleh petugasnya. Selama menunggu itu, aku tidak bisa kemana-mana karena sebaiknya kacamata dilepas. Jadi aku ngobrol saja dengan suami. Oh ya, setelah penetesan ini, mata kita akan buram melihat cahaya sekitar 3 – 4 jam, jadi sebaiknya memang tidak bepergian sendiri setelah ini.

Penetesan pertama ada 2 cairan obat yang berbeda. Pertama yang bikin pedih mata, yang kedua yang biasa saja. Berikutnya hanya satu obat tetes yang tidak pedih mata. Setiap pengulangan tetes mata, mata kita akan disenter untuk melihat apakah kondisi mata sudah siap diperiksa retinanya. Setelah 4 kali tetes, mataku sudah kesilauan kalau disenterin. Kemudian petugas memberi tahu dokter kalau aku sudah siap diperiksa.

Masuk ke ruangan dokter, mataku langsung dicek dengan alat yang menurutku kali ini menyilaukan (ya iya lah kena efek tetesan obat mata) dengan kondisi ruangan yang dimatikan lampunya. Pertama mata kananku disuruh untuk lihat ke segala sudut. Atas, bawah, kiri, kanan, kanan-atas, kanan-bawah, kiri-atas, kiri-bawah, dan begitupun mata kiriku. Tapi begitu gantian si mata kiri, mataku sudah sangat berair melihat karena melihat cahaya terlalu lama tanpa berkedip.

Begitu selesai, lampu ruangan dihidupkan lagi dan dokter menjelaskan kalau kondisi retinaku baik dan bisa menjalani proses lahiran normal (horee!!!). Kemudian dari dokternya bertanya apakah perlu surat keterangan? Tentu kami menjawab, “Boleh, Dok.” Lalu setelah pamitan dengan dokternya, kami disuruh menunggu di bawah di dekat tempat registrasi.

Karena sudah kesenangan sama hasilnya, aku lupa untuk bertanya soal titik putih dalam kelopak mata. Tapi yasudalah, kalau menurut Google katanya memang di saat hamil kadar kolesterol akan meningkat. Lewat masa itu, kolesterol ibu akan kembali normal lagi.

Surat keterangan dokternya sudah siap diambil dan ternyata sudah tidak tidak ada biaya tambahan lagi. Yang kami bayar kemarin sudah mencakup di hari ini juga. Syukurlah~ Tinggal menjalani hari persalinan normal dan menjadi Mama baru deh (doakan lancar ya).

Ringkasan total biaya (per 09/07/2019)

  • Konsultasi dokter       : Rp   95.000
  • Tonometer                   : Rp   45.000
  • Funduscopy indirect : Rp   35.000
  •                             Total : Rp 175.000

Kesimpulan

  • Periksa retina mata jangan kemalaman, pergilah ketika sore supaya tidak bolak-balik ke Rumah Sakit Mata. Irit waktu dan uang parkir tentunya.
  • Jika kamu punya minus yang termasuk tinggi, periksakan matamu sebelum masuk usia kehamilan 9 ya. Bisa di bulan ke-7 atau 8.

Leave a Reply