Wisata Berdua ke Jepang Tanpa Tour. Apa Saja yang Harus Dipersiapkan?

Pergi ke Jepang bersama orang yang cocok dengan karakter kita tentu sudah menjadi impian. Mau makan apa atau jalan ke mana yang kita mau 80% bisa terlaksana. Aku sudah pernah ke Jepang sebelumnya di tahun 2016 bersama staff dan bos di kantorku. Menyenangkan kalau ramai, tapi destinasi yang ingin dilihat, makanan yang ingin dicoba tidak semua bisa terwujud.

Dari dulu aku ingin pergi ke Jepang bersama pacarku, tapi kondisi keuangan dan waktu tidak cocok hingga kami memutuskan untuk menjadikannya tujuan Honeymoon (lagipula harus ijin bagaimana mau pergi berdua tapi status masih pacaran, haha). Karena dia sibuk menjalankan usaha kulinernya, aku yang cukup banyak mempersiapkan hal-hal yang dibutukan untuk pergi ke Jepang sendirian. Kami ke Jepang H+4 setelah menikah, dan persiapan yang aku lakukan sudah sejak awal tahun 2018 lalu. Berikut ini poin-poin persiapannya.

1.  Tentukan tujuan awal liburanmu, apakah kuliner, wisata alam, menikmati jalan-jalan berdua, atau apa?

Menentukan tujuan awal ini sangat penting karena ini akan mempengaruhi isi itinerary kamu. Kalau aku lebih ke kuliner dan explorasi daerah wisata. Konsekuensinya adalah hotel yang aku pilih tidak terlalu mahal karena waktuku padat dihabiskan di luar hotel.

2.  Buat itinerary supaya bisa memperkirakan jangka waktu liburan

Screen Shot 2019-01-05 at 15.25.57.png

Kalau asal menentukan jadwal liburan, kamu bisa kehilangan tempat-tempat utama yang ingin kamu kunjungi. Sediakan waktu untuk membuat list kunjungan dan perkiraan waktunya supaya kelihatan minimal hari yang dibutuhkan untuk liburan ke Jepang. Ketika kamu ingin ke Disneyland/Disneysea/Universal Studio of Japan kamu sudah membuang 1 hari untuk wisata ke tempat lainnya. Aku sendiri memperkirakan 11 hari, walaupun masih kurang tapi ini juga karena mempertimbangkan calon suami yang menjalankan usaha tidak bisa libur terlalu lama.

Oh ya sedikit saran ketika membuat itinerary, awalnya kamu masukkan saja nama daerah yang ingin kamu kunjungi atau yang populer, nantinya baru diperdalam lagi kuliner khas di sana apa atau spot apa yang harus dikunjungi, misalnya temple atau statue.

3.  Pantau jadwal travel fair supaya mendapat tiket murah dan promo lainnya

Aku memang tidak berpengalaman dalam mencari tahu perbedaan harga di travel fair yang biasanya ada tema-tema tertentu, yang aku tahu hanyalah persiapan lebih awal akan membuatku bisa mengerjakan hal lainnya. Perlu kamu ketahui ternyata kalau ingin ke Jepang, harga “Japan Travel Fair” biasanya yang paling murah dibanding dengan travel fair biasa.

Travel fair menawarkan harga pesawat PP yang lebih murah dibandingkan dengan membeli di website resminya (kecuali event Air Asia ya). Kelebihan lainnya kamu bisa memilih pesawat yang sudah termasuk makanan berat plus cemilan untuk menempuh perjalanan selama 6 jam di udara seperti ANA Air, JAL, dan Garuda Indonesia. Kalau Air Asia tiketnya memang murah tapi biasanya tidak termasuk makan dan bagasi.

Tiap travel fair bisa berbeda promo maskapainya, ketika aku mencari tiket murah, pesawat yang support adalah ANA Air. Dulu aku juga pernah naik itu, jadi tidak masalah karena makanannya memang enak. Dan kalau memang tidak suka transit-transit ke negara lain, pastikan kalau penerbangan yang kamu pilih direct flight.

Aku tidak pergi ke lokasi travel fair karena waktu itu memang jauh di JCC (awal Maret 2018). Tapi travel yang di mall harga pesawatnya juga mengikuti harga fair, bedanya hanya kamu tidak akan mendapat merchandise seperti yang di travel fair. Aku beli tiket di HIS karena ada promo unlimited wifi selama 10 hari seharga 99 ribu. Aku tinggal menambah biaya wifi 1 hari karena perjalananku 11 hari.

4.  Booking hotel di lokasi yang strategis dengan itinerary kamu

Aku orangnya memang suka mempersiapkan dari awal supaya tidak pusing ketika mendekati hari H, apalagi printilan pernikahan juga makan energi dan pikiran. Jadi aku putuskan booking dari awal. Untuk di Osaka, aku tinggal di daerah Dotonbori karena posisinya cukup strategis dengan tujuanku yang lain di Osaka. Hotel yang kupilih waktu itu masih underconstraction dan baru akan buka di bulan Mei. Posisinya oke dan hotelnya sepertinya terjamin. Akhirnya aku booking di Agoda setelah melihat di beberapa situs booking hotel lainnya juga tertera hotel ini. Hotel di Jepang memang kecil-kecil, tapi di antara semua hotel yang pernah aku inap di Jepang, Oriental Express Osaka Shinsaibashi masih yang paling enak.

Di Tokyo aku tinggal di daerah Asakusa, dan beda banget dengan waktu di Osaka, di Agora Place Asakusa dengan harga yang lebih mahal dari ketika aku booking Oriental Express tapi kenyamanannya lebih jelek. Udah gitu, musim gugur mereka bilang musim dingin sehingga tidak ada AC sama sekali dan air showernya sangat panas. Kami kesusahan ketika mandi, dan selalu membuka jendela supaya tidak kepanasan ketika tidur. Tapi memang hotel di Tokyo lebih mahal dari di Osaka sih, ada baiknya cari yang lebih baru saja, biasanya hotel baru ingin reviewnya bagus.

5. Cari info kuliner dan destinasi favorit, kemudian cek lagi posisinya di Google Maps

Gunanya untuk membenarkan urutan itineary kamu biar satu arah dan tidak bolak-balik rutenya. Selain melihat cerita di blog orang lain, kamu juga bisa melihat dari website yang memang khusus mereview destinasi atau kuliner di Jepang. Aku juga menonton Youtube supaya bisa melihat langsung bentukan kuliner yang disukai wisatawan. Kamu bisa menonton channel Paolo From Tokyo.

6.  Hunting koper hardcase murah dari awal bila belum punya! Sebaiknya jangan bawa koper ukuran L karena di Jepang keretanya banyak menggunakan tangga

Supaya kamu bisa membeli cairan atau barang yang berat, sangat disarankan untuk membawa koper hardcase ketika ke Jepang. Waktu itu aku membeli 1 koper medium dan 1 koper small supaya pas berangkat koper yang small masuk ke koper medium untuk mengurangi bawaan. Nah si pasangan juga bawa 1 yang small terus masuk ke bagasi juga deh. Beli jauh-jauh hari berguna agar kamu bisa memantau harga terbaik koper bermerek yang kamu incar.

7.  Cek musim dan mulai beli kebutuhan baju untuk pergi (sisanya bisa beli di sana). Sepatu disarankan skecher yang tipe Walk dan wajib bawa power bank

Kami pergi dari 1 November 2018 – 11 November 2018, masih pada musim gugur. Untung kami sempat kepo apakah musim gugur berpotensi turun hujan atau tidak. Jadi masing-masing membawa payung yang bisa masuk ke dalam ransel.

Untuk sepatu sehari-hari, kami menggunakan Skecher karena banyak rute kami yang harus berjalan kaki dan ini sangat membantu dibandingkan menggunakan merek lain. Dulu aku pernah seharian jalan di Singapura menggunakan Wakai dan pegelnya bisa lanjut sampai besok hari. Kalau menggunakan Skecher, besok paginya kaki tidak sakit.

Dan yang paling penting lagi adalah power bank. Selama di Osaka kami tidak menggunakan power bank dan tidak menemukan penjual power bank, padahal wifi portable dari HIS tidak tahan lebih dari 8 jam. Alhasil kami selalu pulang sebelum jam 6 kalau bepergian jauh. Kalau sekitaran hotel masih berani jalan sendiri tanpa melihat maps karena masih bisa dihafal rutenya.

8.  Pinjam kartu transportasi ke teman

Kalau ada kartu transportasi yang bisa dipinjam maka kamu bisa berhemat sekitar 200an yen sebagai biaya fisik kartu. Waktu itu kami meminjam kartu ICOCA dan awalnya agak kesulitan mencari tempat top up-nya yang tidak sebanyak SUICA dan PASMO. Tapi kalau memang tidak ada pinjaman, di bandara Osaka ada konter PASMO untuk membeli dan merefund kartu tersebut.

9.  Pantau kurs dan tukar berkala

Awal mula membeli tiket, kurs 1 yen = Rp 130. Lalu ketika aku mengecek dekat-dekat hari keberangkatan, kursnya lagi jelek dan fluktuatif. Berubah setiap hari dan cenderung naik. Akhirnya aku putuskan untuk tukar secara berkala sehingga waktu itu sempat menukar di poin 135-136an. Berasa banget sih kalau kamu nukernya puluhan juta. Beli oleh-oleh jadi mikir-mikir dulu, hehe.

10.  Mencari tiket theme park murah di awal

Hal ini berguna untuk berhemat di awal agar yen yang kamu tidak terkuras di Jepang. Kami berencana pergi ke 3 theme park: Universal Studio of Japan, Disneyland, dan Disneysea. Tiketnya kami beli secara online lewat Daezelle.co seharga 800 ribu untuk semua theme park. Menjelang berangkat, kami baru diberi tahu teman kalau tiket di Daezelle bisa saja invalid, harus hati-hati.

Ketika di Universal, tiketnya berhasil lewat. Namun ketika di Disney Land, kami tidak bisa masuk karena tiketnya sudah expired. Pihak Daezelle merefund tiket dan kami jadinya harus membeli tiket di lokasi. Untungnya tiket masuk 2 hari berturut-turut lebih murah dibandingkan dengan single day, yaitu 13.200 yen. Mahal 200an ribu perorang sih tetap, tapi yang penting bisa masuk ke sana dan bermain deh.

11. Persiapkan visa

Mempersiapkan visa tidak serepot yang aku bayangkan walaupun aku dan pasangan berada di pulau yang berbeda. Dengan bantuan travel agent yang sudah berpengalaman ditambah kamunya yang aktif bertanya detil yang kamu tidak tahu akan sangat mempermudah proses pengumpulan syarat visamu. Aku meminta bantuan HIS Travel karena tiketku juga dibeli melalui HIS, tentu saja biayanya jadi lebih murah (sekitar 635 ribu) dan kita jadi tidak sungkan untuk banyak bertanya.

Aku mengajukan visa 2 bulan sebelum hari keberangkatan. Nah di sini kamu juga harus memastikan kalau kamu tidak mengajukan lebih awal dari 2 bulan karena batas waktunya habis. Kalau aku pulang dari Jepang ke Jakarta di tanggal 11 November, jadi paling aman kalau aku mengajukan visa di tanggal 15 September.

Yang penting lainnya adalah surat pernyataan diri dan penjamin karena membutuhkan tanda tangan. Jadi setelah mengecek bersama travel agent kalau surat yang dibutuhkan benar dan tinggal dibubuhi tanda tangan, aku mengirim softcopy dokumen ke email pasanganku, dan setelah dia tanda tangan, barulah mengirim ke Jakarta lagi.

12. Visa diterima dan siap berangkat di hari H

Penerbangan kami dengan ANA Air sekitar jam 7 pagi, jadi kami sudah di bandara sekitar 3,5 jam sebelumnya. Untuk itu kami harus memesan taksi, siap dengan barang bawaan dan alarm tentunya. Walaupun lama di pesawat tapi semua pengalaman jalan-jalan akan selalu worth it. Happy holiday ya yang juga mau bersiap ke Jepang dan be flexible kalau itinerary kamu tidak 100% bisa berjalan, wajar kok. Bisa karena kendala cuaca atau karena menemukan spot yang menarik dan habis waktu di sana, hehe.

 

Leave a Reply